betapa berbahagianya kedua orang tuaku,
ya, kulihat itu dalam kebanggaan mereka disaat anak pertamanya ini mengenakan toga
aku lulus setelah tepat 4 tahun menjalani 'study' ku di kampus yang ketat dan menuntut setiap orang di dalam nya memberikan yang terbaik dari dirinya
namun ada yang mengganjal,
bagaimanapun juga, negara ini masih menghargai kemampuan dan daya jual pribadinya dari nilai akademik
sementara aku hanya punya IP yang pas-pasan (2,73) sangat minim untuk orang teknokimia nuklir diangkatanku
bapakku yang seorang dosen menyayangkan hal ini dan meragukan kemungkinanku untuk bekerja di tempat yang cukup baik
namun hal ini lah yang membedakan kami (aku dan bapakku) dari ibuku
hidupnya yang penuh iman memaksa ideologi dan kekerasan hati dari 2 laki2 di rumah kami runtuh.
suatu hari di bulan mei, bulan kelahiran dari kasih yang menjelma sebagai seorang ibu (ibu ku)
pada hari kamis yang mendung dan penuh keputus asaan setelah 6 bulan lamanya aku berkeliling jawa untuk medapatkan cukup sebuah pekerjaan,
aku memutuskan untuk menerima menjadi kuli disebuah perusahaan kacang temanku di pati.
ditawarkan gaji 20 rb seharinya, aku berniat berangkat di hari sabtu meninggalkan yogyakarta, kampung halamanku yang selalu kurindukan.
dibekali restu dari bapakku yang mendukungku dengan alasan sebagai modal pengalaman dan pengharapan jika ada koneksi yang membantu, aku berniat menegakkan kepalaku untuk bekerja lebih dekat dengan kekasihku yang seorang perawat di sebuah rumah sakit ternama di kudus.
aku mengantungi sebesar-besarnya rasa maluku dan berpamitan pada orang-orang terdekatku.
sahabat, teman dan saudara2 yang telah mendampingiku pun merelakan kepergianku dalam doa.
namun hari itu ibuku menunjukkan ke kuatan imannya.
dia tidak rela dan menangis dalam doanya. aku mendengar ungkapan kasih dan permohonan yang dia sampaikan pada Pujaannya.
dia berteriak dengan tegasnya dibalik kepedihannya bahwa jika Tuhan benar2 mengijinkanku bekerja, Tuhan yang selama ini keluarga ini agungkan Namanya tak akan berikan sesuatu yang seburuk itu untukku. ibuku berkata atas nama Orang Suci dan Raja dalam hidupnya bahwa pekerjaan itu akan datang tanpa aku duga.
aku menangis dalam hatiku dan melampiaskannya bersama setiap doa ibuku pada hari itu.
namun ideologi dan rasa pesimis yang menghantuiku dan ayahku membuatku tetap berusaha menerima kenyataan bahwa aku hanya akan menjadi seorang kuli
hingga keesokan harinya,
jumat pagi yang basah diguyur hujan rintik2, aku menerima telepon dari orang yang tak kukenal yang menawarkan padaku sebuah pekerjaan dengan gaji yang sangat berlipat ganda.
orang tersebut mendapatkan namaku, dan menghubungi ku tepat waktu ditengah perseteruan iman dan ideologi di dalam keluarga kami. aku menerimanya dan memberikan kabar bahagia ini pada keluargaku. dan inilah kemenangan doa yang ditunjukkan ibuku dari kasihnya yang lahir karena Imannya. inilah awal aku bekerja di kota yang bernama cikarang sampai desember 2007 kemarin Tuhan memberiku kesempatan untuk mendapatkan hal yang lebih luar biasa dan berpindah ke surabaya. inilah kemenangan yang diperjuangkan oleh doa
Minggu, 17 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
aku terharu dengan kisahnya, semoga bisa menjadi kesaksian bagi yang lainnya. Gbu
Posting Komentar